Sedikit mengenai gempa..

Posted: October 13, 2009 in handschrift
Tags:

Mungkin, kebanyakan manusia sekarang sudah tidak berpikir rasional lagi. Hal-hal yang irasional seringkali menjadi rasional bagi anggapan mereka. Seperti kepercayaan mereka terhadap ramalan-ramalan yang marak akhir-akhir ini. Seperti misalnya saja, paranormal-paranormal di Indonesia dengan gamblangnya mengatakan ramalannya mengenai gempa yang akan terjadi di daerah X pada bulan sekian, kemudian akan ada penyakit baru yang aneh, akan banyak terjadi kecelakaan lalu lintas, akan ada kapal laut yang tenggelam dan seterusnya. Siapa mereka? Mereka bukanlah Tuhan. Mereka tidak dapat memprediksi terjadinya suatu bencana apalagi kematian. Para ahli geologi saja tidak bisa memprediksi terjadinya bencana. Mereka yang sudah expert dalam bidangnya saja tidak dapat memprediksi, tapi paranormal-paranormal yang entah basic pendidikannya apa, secara yakin memprediksi bencana yang akan terjadi.

Seperti pada 30 desember 2004, hasil diskusi para ahli geologi Indonesia —– setelah gempa Aceh 26 Desember 2004 tidak akan terjadi gempa besar lain  : “Aceh dan sekitarnya aman untuk 150-200 tahun mendatang” (Dzikron, 2009, dalam Tragedi Tsunami Di Aceh “Bencana Alam atau Rekayasa?”). Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa memang gempa bumi tidak dapat diprediksi. Kenyataannya, gempa terjadi lagi di Nias dengan kekuatan 8,7 Skala Richter pada 28 Maret 2005 dan yang baru-baru ini terjadi gempa bumi di Padang berkekuatan lebih dari 7 Skala Richter pada 30 September 2009 serta di Jambi sebesar 7 Skala Richter pada keesokan harinya.

Ironisnya, saat ini warga Lampung Barat sudah termakan isu bahwa akan terjadi gempa 8,8 Skala Richter. Mereka sudah mengalami ketakutan dan trauma akan peristiwa yang sebenarnya belum dapat diprediksi apakah akan benar-benar terjadi atau tidak. Tidak sedikit masyarakat Lampung yang “pasrah” dan gencar meminta maaf melalui Internet atau Facebook karena takut tidak “sempat” meminta maaf apabila nanti mereka yang akan menjadi korban jiwa selanjutnya. Darimana mereka mendapatkan kabar tersebut? Tidak lain hanya dari isu dari orang yang tidak diketahui dan dari ramalan-ramalan paranormal-paranormal melalui media. Tetapi mengapa mereka dengan serta-mertanya percaya begitu saja? Padahal secara ilmiah, Indonesia memang berada pada wilayah yang rawan akan bencana. Seperti misalnya, Indonesia dikelilingi oleh lautan, yang memang berpotensi besar akan terjadi tsunami apabila terjadi gempa tektonik yang berpusat di laut dengan kedalaman yang dangkal. Logikanya saja, tidak akan mungkin terjadi tsunami apabila Indonesia tidak dikelilingi oleh lautan.


Gempa Bumi di Indonesia. Mengapa bisa terjadi?

Gempa bumi yang sering melanda Indonesia, juga tidak lain karena Indonesia terletak diantara lempeng-lempeng tektonik yang selalu bergerak. Di dunia ada 16 lempeng tektonik yang tebalnya 0 – 90 km. Dari ke-16 lempeng tektonik ini, ada 15 lempeng tektonik yang bergerak sedangkan 1 berhenti. Lempeng tektonik ini berupa lapisan padat yang mengambang di atas magma. Hal inilah yang menyebabkan lempeng ini selalu bergerak. Lempeng tektonik mengalami pergerakan tidak lain agar terjadi kesetimbangan di permukaan bumi. Bumi yang bergerak dengan kecepatan ± 1667 km/jam —dapat dibayangkan saja apabila tidak ada lempeng-lempeng tektonik sebagai penyeimbang— bumi yang bulat ini tidak akan seperti ini. Hal ini dapat diilustrasikan dengan misalnya saja gasing –permainan anak-anak– yang ketika gasing itu berhenti, ia tidak lagi tegak lurus. Gasing itu akan miring ke kanan atau miring ke kiri, menjadi tidak seimbang. Apabila bumi tidak memiliki lempeng tektonik sebagai penyeimbang, maka bumi ini akan bernasib sama dengan gasing itu.

Dari ke-16 lempeng tektonik tersebut, Indonesia terletak diantara lempeng samudera Indo-Australia dan lempeng benua Eurasia. Menurut Teori Pengapungan Benua (Alfred Wagener, 1912), bumi tersusun atas inti yang berisi cairan magma panas yang dilapisi oleh batuan lempeng (lempeng samudera dan lempeng benua). Lempeng-lempeng tersebut seperti kumpulan mosaik dalam ukuran yang sangat besar, dan dapat bergeser dengan kecepatan 5-10 cm per tahun, kecepatan ini berbeda tergantung daerahnya. Pergerakan lempeng yang paling cepat ada di Hindia Selatan dengan kecepatan 13-15 cm/tahun, sedangkan di Jawa kecepatannya 3-4 cm/tahun dan di Sumatera kecepatannya 5-7 cm/tahun. Pergeseran lempeng terbagi menjadi tiga, yaitu tipe saling bergeseran (transform), tipe pemisahan (divergen) dan tipe penujaman (convergen). Di Indonesia sendiri berlaku tipe pergeseran penujaman (convergen). Penujaman ini akibat lempeng samudera Indo-Australia yang menyuruk lempeng benua Eurasia, sehingga tercipta zona tumbukan (subduction zone). Dengan adanya zona tumbukan ini menyebabkan timbulnya gempa serta terbentuknya bidang patahan naik yang membentuk perbukitan (pegunungan) di bagian barat Pulau Sumatera dan bagian Selatan Pulau Jawa (Dzikron, 2009 dalam Tragedi Tsunami Di Aceh “Bencana Alam atau Rekayasa?”).

Dengan demikian, sudah sewajarnya apabila di Indonesia khususnya Pulau Jawa dan Pulau Sumatera sering mengalami bencana seperti gempa bumi dan meletusnya gunung berapi. Dampak penujaman itu juga yang menyebabkan terbentuknya barisan gunung berapi (ring of fire) di sepanjang jalur penujaman. Akumulasi penujaman selama ratusan tahun akhirnya memuncak melampaui batas sehingga lapisan batuan patah, diikuti gempa bumi. Sehingga dapat disimpulkan, gempa bumi adalah terjadinya getaran, guncangan (ground shaking) akibat pelepasan energi secara tiba-tiba pada patahnya lapisan batuan di dalam bumi. Patahan tersebut terjadi apabila lapisan batuan tidak sanggup menahan tekanan pergeseran lempeng yang terjadi. Dengan kata lain, gempa bumi dapat terjadi akibat dari pergerakan lempeng tektonik dan karena terjadinya patahan lapisan batuan di dalam bumi.

Tindakan apa yang sebaiknya dilakukan?

Tidak hanya di Indonesia, Jepang merupakan negara yang juga sering dilanda bencana alam seperti gempa bumi. Sudah sejak dulu bahkan. Akan tetapi, bukan ketakutan yang semestinya sikap yang kita tunjukkan. Kita tidak dapat memprediksi apalagi mencegah terjadinya suatu gempa sehingga yang dapat kita lakukan adalah mencerdasi bencana gempa bumi itu sendiri. Pengetahuan mengenai gempa bumi, pengetahuan mengenai tindakan yang harus kita lakukan apabila terjadi gempa, mengenali tanda-tanda yang menyebabkan gempa bumi melalui fenomena alam dan bangunan tahan gempa adalah beberapa upaya yang dapat kita lakukan untuk meminimalisir dampak yang diakibatkan oleh gempa. Sehingga apabila terjadi gempa bumi, lagi, kerusakan dan korban jiwa akibat gempa dapat diminimalisir.

Di Jepang, pemerintah Jepang sudah membuat peraturan mengenai bangunan tahan gempa. Di Indonesia pun sudah diberlakukan hal tersebut. Seperti misalnya di daerah Kalasan, Yogyakarta, didirikan sekitar 80 bangunan tahan gempa berupa rumah dome (seperti rumah di Kutub Utara), lengkap dengan rumah sakit, sekolah dan masjid dalam satu komplek. Namun sepertinya hal itu masih belum dilaksanakan oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Padahal apabila itu dilaksanakan dapat meminimalisir kerusakan dan korban jiwa yang terjadi akibat gempa bumi.

Tidak hanya itu, kita juga harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan berpasrah diri kepada Tuhan, bukannya mempercayai ramalan-ramalan dari paranormal yang masih belum dapat dipastikan itu. Karena hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang.

Wallahualam..

11 Oktober 2009, 12:40 pm

(Ratih Kurniasih Nurachman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s