Metode konservasi terbaik bagi tanaman—belum tentu terbaik bagi perusahaan?

Posted: November 1, 2009 in handschrift
Tags:

Terdapat tiga macam metode konservasi tanah, yaitu metode konservasi mekanik, kimiawi dan vegetatif. Dari ketiga metode ini tentu ada kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode.
Pada metode konservasi mekanik biasanya berupa pembuatan rorak, pembuatan terasering, dan atau penanaman secara kontur. Tentu hal ini tidak dapat dilakukan pada semua lahan. Ada beberapa kriteria yang menentukan apakah metode tersebut cocok atau tidak digunakan pada daerah atau lahan tersebut. Pembuatan terasering tentunya tidak akan efektif dan efisien apabila dilakukan pada lahan yang datar, begitu juga sebaliknya pembuatan rorak tidak efektif apabila dilakukan pada lahan yang miring terutama dengan kemiringan yang cukup tinggi karena terasering biasanya digunakan pada lahan yang miring sedangkan pembuatan rorak biasanya digunakan pada lahan yang datar. Dari segi kelebihannya tentu metode ini termasuk metode yang paling murah karena tidak membutuhkan biaya, tetapi hanya menggunakan tenaga saja.
Pada metode konservasi kimiawi, tentu metode ini juga terdapat beberapa kekurangan dan kelebihan. Dimana metode konservasi kimiawi ini merupakan suatu usaha pengawetan tanah dengan menggunakan bahan-bahan kimia yaitu soil conditioner. Memang hal ini menguntungkan dari segi kemudahan dan praktisnya. Akan tetapi metode ini jarang digunakan karena soil conditioner ini mahal dan tentunya lama kelamaan akan merusak tanah karena bahan kimia yang terkandung di dalamnya.
Metode konservasi vegetatif, dimana metode ini merupakan usaha pengawetan tanah dengan menggunakan LCC atau Legume Cover Crops atau yang biasa dikenal dengan sebutan tanaman penutup tanah. LCC ini bila dilihat dari segi kelebihannya, sangat menguntungkan sekali terutama bagi tanaman. Selain dapat meningkatkan sifat fisika tanah, yaitu dapat mengurangi erosi tanah, LCC juga dapat meningkatkan sifat kimia tanah—menambah nitrogen. Akan tetapi, dari segi kelemahannya tak lain adalah dari segi ekonomi, karena perusahaan harus mengeluarkan biaya ekstra untuk pembelian bibit LCC tersebut.
Dari penjelasan singkat ketiga metode tersebut, menurut saya, metode yang paling menguntungkan bagi tanaman adalah metode konservasi vegetatif dengan penggunaan Legume Cover Crops (LCC). LCC selain mudah ditanam, juga dapat menambah nitrogen yang dibutuhkan oleh tanaman. Seperti yang kita ketahui, nitrogen merupakan unsur hara makro yang sangat dibutuhkan oleh tanaman terutama dalam proses fotosintesis tanaman. Banyaknya nitrogen di udara ternyata tidak menjadi jaminan bahwa tanaman dapat menyerap nitrogen dalam jumlah yang banyak pula. Nitrogen yang diserap oleh tanaman biasanya dalam bentuk nitrat dan ammonium. Akan tetapi, nitrogen seringkali tidak dapat tersedia bagi tanaman karena sifatnya yang mudah menguap ke udara. Sehingga tanaman tidak dapat menyerap nitrogen tersebut dalam jumlah yang banyak. Dengan adanya LCC, leguminosa tersebut dapat mengikat nitrogen bebas dari udara sehingga menjadi tersedia bagi tanaman.
Baik untuk tanaman tetapi belum tentu pula baik bagi perusahaan-perusahaan perkebunan. Tidak jarang perkebunan-perkebunan mengacuhkan pentingnya LCC. Padahal LCC merupakan salah satu komponen penting di bidang pertanian, termasuk juga bagi tanaman tahunan—tanaman perkebunan.
Di perusahaan tempat saya Kerja Lapangan, sebagai contohnya, mereka tidak menggunakan LCC, padahal mereka tahu LCC sangat penting bagi tanaman. Masalah ekonomi menjadi alasan utama kenapa banyak perusahaan perkebunan tidak menggunakan LCC. Tentunya mereka lebih memilih menggunakan metode konservasi mekanik yang memang pada dasarnya tidak mengeluarkan biaya, kecuali biaya pekerja saja. Untuk menggunakan LCC, tentunya memerlukan biaya ekstra untuk pembelian bibit LCC.
Kesadaran perusahaan perkebunan akan pentingnya penggunaan LCC bagi perkebunan mereka sepertinya masih rendah. Walaupun pengetahuan mengenai keuntungan penggunaan LCC untuk jangka waktu yang panjang sudah mereka ketahui, akan tetapi masalah ekonomi tetap saja tidak dapat mengubah sikap mereka untuk tidak menggunakan LCC.
Hal-hal seperti inilah yang perlu dibenahi di beberapa perkebunan yang belum bisa memikirkan “nasib” lahan mereka dalam jangka waktu yang panjang. Tentunya karena tanaman-tanaman perkebunan seperti karet dan kelapa sawit merupakan tanaman yang memerlukan unsur hara makro terutama N dalam jumlah yang besar dan juga tentunya “menguras habis” persediaan unsur-unsur hara tersebut karena umur tanaman yang sampai berpuluh-puluh tahun ini.
Keegoisan perusahaan perkebunan inilah yang nantinya akan merugikan untuk waktu ke depan. Untuk saat ini memang dampaknya belum dapat dirasakan, akan tetapi suatu saat nanti hal itu akan dapat dirasakan. Bagaimana nanti suatu saat lahan akan menurun produktivitasnya dan menurun tingkat kesuburannya. Sehingga dampaknya yang paling terasa adalah menurunnya hasil produksi tanaman itu sendiri.
Alangkah baiknya apabila mereka mengurangi ego mereka untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka waktu panjang bukan dalam jangka waktu pendek saja. LCC tidak selamanya merugikan dalam hal ekonomi. Pada awalnya saja perusahaan mengeluarkan biaya untuk membeli bibit LCC tersebut. Akan tetapi, setelah itu mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk membeli bibit LCC lagi, karena mereka dapat memperbanyak bibit LCC sendiri. Tentunya hal ini akan menguntungkan perusahaan dalam jangka waktu yang panjang, yaitu kesuburan tanah tetap terjaga, hasil produksi tanaman pun akan semakin meningkat—seperti yang diharapkan perusahaan-perusahaan pada umumnya.

(Ratih Kurniasih Nurachman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s