Pertanian Organik Sebagai Wujud dari Pertanian Ramah Lingkungan dan Realisasinya di Indonesia

Posted: November 7, 2009 in handschrift
Tags:

Konsep pertanian berkelanjutan pada dasarnya adalah pertanian berwawasan lingkungan. Dimana pertanian berwawasan lingkungan ini tidak hanya memperhatikan dari segi tanah, air dan tanaman saja, melainkan juga dari segi manusia, hewan, makanan, pendapatan petani dan juga kesehatan. Tujuan dari pertanian berwawasan lingkungan tak lain adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan keanekaragaman ekosistem hayati misalnya musuh alami hama dan penyakit, juga tak lain untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan manusia dan juga makhluk hidup lainnya. Dengan kata lain, pertanian berwawasan lingkungan merujuk kepada pertanian yang ramah lingkungan.

Pertanian yang ramah lingkungan dapat dicapai dengan jalan menerapkan pertanian organik. Dimana pertanian organik ini sendiri merupakan sistem pertanian yang dimanage untuk menghindari penggunaan pupuk anorganik, pestisida kimia dan hasil dari rekayasa genetik. Dengan kata lain, pertanian organik adalah pertanian yang benar-benar alami, terbebas dari bahan-bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan berupa air, tanah dan udara, juga untuk menghindari bahaya keracunan makanan akibat residu pestisida kimia yang berlebihan.

Akan tetapi, di Indonesia sendiri, belum banyak petani yang menerapkan sistem pertanian organik. Belum terealisasinya hal ini, dikarenakan kesulitan petani itu sendiri dalam menerapkan pertanian organik. Perlu diketahui, untuk menjadi pertanian yang benar-benar organik, tidak hanya harus menghindari penggunaan pupuk dan pestisida kimia, akan tetapi lahan yang digunakan untuk bercocok tanam harus benar-benar terbebas dari residu bahan-bahan kimia yang sebelumnya pernah digunakan. Agar supaya lahan-lahan tersebut terbebas dari residu bahan-bahan kimia, biasanya lahan “diistirahatkan” atau dengan kata lain tidak ditanami apapun selama kurang lebih 2 tahun atau sampai benar-benar tidak ada lagi residu bahan-bahan kimia yang digunakan pada lahan sebelumnya. Selain itu, lahan yang digunakan untuk pertanian organik sebisa mungkin tidak bersebelahan dengan pertanian non organik. Karena ditakutkan akan terjadi kontaminasi akan pupuk anorganik melalui run off dan atau aliran permukaan dan juga kontaminasi pestisida kimia melalui angin. Hal-hal seperti ini yang mengakibatkan kurangnya minat petani terhadap sistem pertanian organik karena kebiasaan petani untuk menggunakan lahan pertanian secara terus menerus dan perlunya investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan-bahan kimia.

Selain itu, kesulitan dalam hal pemasaran hasil pertanian organik — belum adanya kepastian pasar — menjadi penyebab realisasi sistem pertanian organik ini menjadi terhambat. Fakta sebenarnya, hasil pertanian organik ini lebih tinggi harga jualnya dibandingkan dengan hasil pertanian non organik. Akan tetapi, daya beli masyarakat pada umumnya, yang cenderung membeli hasil pertanian non organik dengan harga yang murah, menyurutkan “nyali” petani untuk beralih ke sistem pertanian organik dan pada akhirnya tetap pada sistem pertanian non organik.

Kecenderungan masyarakat untuk tidak beralih mengkonsumsi hasil produk pertanian organik juga dikarenakan adanya keraguan pada pihak konsumen pada produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik akan tetapi tidak ada sertifikasi dari Pemerintah. Saat ini negara-negara pengimpor sudah memiliki standar mutu pada produk-produk hasil pertanian organik. Produk-produk pertanian organik yang masih mengandung residu bahan-bahan kimia, langsung dikirim kembali kepada negara pengekspor, termasuk Indonesia. Untuk itu diperlukan adanya sertifikasi sebelum produk itu diperjualbelikan ke masyarakat, apalagi untuk diekspor ke negara-negara lain.

Penghambat terealisasinya sistem pertanian organik yang lain yaitu kecenderungan petani memakai pupuk anorganik dan pestisida kimia seperti sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Dikarenakan pupuk anorganik cepat menyediakan hara bagi tanaman dan juga pestisida kimia cepat memberantas hama penyakit yang mengganggu tanaman, membuat mereka tetap pada sistem pertanian non organik. Untuk menerapkan pertanian organik, pupuk yang harus digunakan adalah pupuk organik. Padahal belum semua petani di Indonesia dapat membuat sendiri pupuk organik tersebut. Dan juga banyak dari mereka belum mengetahui pestisida-pestisida hayati dan alami yang dapat dipergunakan untuk memberantas hama penyakit. Kecenderungan petani untuk mendapatkan hasil produksi pertanian setinggi-tingginya, tanpa memikirkan akibatnya di masa yang akan datang inilah yang menjadikan sistem pertanian organik patut untuk lebih diperjuangkan di hadapan para petani di Indonesia.

Tentunya petani tidak bisa disalahkan begitu saja. Untuk mewujudkan terealisasinya sistem pertanian organik demi terwujudnya pertanian berkelanjutan, peran Pemerintah dan Instansi di bidang pertanian sangatlah penting. Peran pemerintah dalam hal sertifikasi tentu sangat diharapkan agar pihak konsumen memiliki kepercayaan terhadap hasil produk pertanian organik sehingga pada akhirnya petani mau mengupayakan menerapkan sistem pertanian organik.

Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:
1. Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.
2. Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Peran Instansi di bidang pertanian, seperti diadakannya penyuluhan-penyuluhan pertanian dan sekolah lapang sangatlah penting. Dengan adanya penyuluhan tentang sistem pertanian organik itu sendiri, pengajaran pembuatan pupuk organik, pengenalan tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang bersifat organik serta pengenalan tentang pestisida nabati dan hayati kepada petani, setidaknya dapat meningkatkan kesadaran petani akan pentingnya sistem pertanian organik sehingga pada akhirnya mereka mau menerapkan bahkan mengembangkan sistem pertanian organik tersebut di Indonesia.

Negara Indonesia sebagai negara yang agraris dengan hasil alamnya yang kaya dan memiliki komoditas-komoditas yang prospektif untuk pertanian organik sebenarnya dapat mengembangkan sistem pertanian organik dengan baik asalkan ada kesadaran dan kemauan dari petani Indonesia dan adanya dukungan dari Pemerintah serta Instansi-instansi yang bersangkutan. Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional. Semoga…

Karangwaru, 2 November 2009

(Ratih Kurniasih Nurachman)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s